Langsung ke konten utama

Postingan

Cahaya Sembilu

Postingan terbaru

Aliran Senja

Aliran Sungai hilir mudik berebut tempat untuk nestapa Hanya aliran yang mengenang dengan hembusan nyanyian angin bersama inang nya Masuk ke celah celah cahaya yang sempat padam Terus menggelisik menemukan jamuannya Hinggap sebentar di perkumpulan Cahaya Lihatlah, hembusan hembusan nafas tersebut naik terus ke atas sana Sangat mengharu dengan nyanyian nyanyian rindu  besar menjunjung tinggi cahaya sampai menghitam kelat dimakan rembulan Wahai... Tetap membesar walau duri kadang menghadang Hingga sampai tiba saatnya Meledak... Ribuan kunang membasahi hingga sampai ke akarnya Sangat indah bagai rembulan di kala senja Aku terpaku... Mentapaki tapak demi tapak genangan air menghujam jiwaku Sungguh alangkah indah Cahaya Nya

Janji Suci

Ada pongahan rindu yang dicapai Ada ringkihan Fana yang dirasa  Aku hanya secerca Cahaya Tak luput dari kilaunya lumut di lautan Tak sangka hanya berbekas arang dan dahaga Kadang asa menuai harapan  Bermimpi tentang rindu dan harapan Coretan Cinta tetap diutarakan  Lambat Laun Masih Upaya untuk dihafal Aku hanya Sebatang Arang  Ingin segera memerdekakan harapan di diri Tentang janji janji yang terucap Demi bertemu Kilaunya Cahaya  Aku gugup  Bahkan tak sanggup bernafas Tuhan... Aku Dengan Sadarku berharap Ingin Segera menapai Asa Mu

Lon Sayang Gata

Manis dirasa Lelah tak berhujung  Sangat lama Ingin dirasa cepat selesai Tapi fakta harus terucap Harus dinikmati  Demi berjumpa yang Di Hati Bagaimana harus selalu bersabar  Bagaimana selalu menikmati  Bagaimana harus sabar dalam damai hati Wahai... Aku berharap bertemu dengan yang satu Berjuang Berkorban bersama demi 1 Abadi Wahai... Mohonkan aku untuk kelak bertemu  Dengan asa yang sudah di hati

Hempas

Hempas... Seperti Benalu Menggelayut Hilang tak lekang tapi terus hadir Berselimut tetap dibalik senyuman Senyaman elok tumbuhan yang tetap tersenyum  Dimana... Dimana... Tetap tegak walau penuh luka dan duri Berharap dengan cemas tak berhujung Dimana .. awan berarak yang tetap terbayang dibenak Dimana.. ayam berkokok tapi tak kunjung ia menua? Dimana... Hilir pekik suara hinggap.. Dimana... Sungguh tak tahu menahu Tetap berfikir jernih  Tetap satu di hati Sang Pena memang telah terukir Wahai.... Lillah... Aku akan selalu disini

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...

Sehangat Senyuman

Sehangat Senyuman             Jalanan kota sangat padat oleh lalu lalang orang – orang yang hilir mudik. Sangat tidak peduli akan apa yang terjadi di sekitar. Debu polusi kian memanas, sehangat mentari yang selalu menyinari. Gedung – gedung bertingkat seakan tiada habisnya. Membuat kota semakin ramai atas kesibukan. Anak – anak jalanan semakin banyak, seiring pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Semakin membabi buta tindak korupsi yang melanda negeri ini. Jumlah pengangguran juga tidak kalah menarik. Survei membuktikan bahwa 9,8 % jumlah angka pengangguran 2 tahun terakhir. Krisis ini sangat mempengaruhi seluruh warga Indonesia.             Ani adalah salah satu anak pinggir kota yang hidup dalam kemiskinan di jalanan. Biasa menjual beberapa antik kecil yang dijajakan di kotak yang selalu dibawa ketika lampu merah menyala. Setara dengan anak SMA tetapi mengundi nasib di jalanan luas. Satu satunya kerabat yang dimiliki. Ha...