Langsung ke konten utama

Cahaya Sembilu

Sembilu biru menghadang kadang menuai di hati
Masih dengan kata kata yang sama
Tetap dinyana dengan panah yang terus menghujam
Wahai... Aku terusik dengan tuaian darah yang kian memanas

Kadang diri mulai lelah, sangat tak disangka 
Dengan panas Matahari menghadap 
Aku terus menerus menangis berharap 
Dengan Kilatan Hangat Dalam senyum

Tetap tegak walau pongahan kilat menghampiri 
Wahai... Aku berdoa dengan wajah tirus dan penuh luka
Cahaya di hati masih tetap hinggap di Lubuk terdalam
Menapaki rintihan rintihan harapan yang kian melembab
Wahai... aku selalu bertahan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permata di Laut Biru

Hempasan ombak berganti berebut mengejar angin yang lari kian menjauh Ombak masih terus giat mengejar hingga nafasnya tetap stabil atau kadang buncah Masih dengan pola pikir yang sama Masih dengan laut atau bumi yang sama Permata indah seakan mengerjap nun jauh di bawah sana Cangkangnya terbuat dari buntalan besi atau tembaga seberat ribuan ton Akankah ada yang bisa mengusiknya? Kini permata sudah bisa tersenyum menghadap apa yang diberikan kepadanya Seperti cinta, harta, atau kedudukan kelak Usikan usikan kini kian menghantam Ratapan dari atas kian terdengar merana Sampai habis air matanya tenggelam dalam kenangan pahit Tapi liat lah,   permata masih tetap enggan berhenti tersenyum Dia tetap senang gembira tertawa Hey... Bahkan dia kini hampir menendang Dia tahu apa yang akan terjadi padanya Pada denyut nadi atau cangkangnya Dia riang menerimanya hingga sampai waktunya Tetap tersenyum menghadap Tuhan Nya Hingga permata kian bersinar pada cahaya...

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...