Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

CAHAYA YANG SEMPAT HILANG

CAHAYA YANG SEMPAT HILANG    Semilir angin kencang memelukku di malam yang sunyi nan gelap. Terasa mesra sekali. Hingga tanpa sadar, belaiannya nyata telah sampai ke sumsum tulangku, meremukkan setiap bagiannya. Pun pepohonan yang tak berhenti menggoyangkan dedaunan, laksana berebut oksigen yang ada disekitarnya. Semakin mendramatisir, langit bersikap seolah ia bermuram durja, seperti tau sesuatu yang akan terjadi berikutnya. Sebuah rahasia besar telah menanti disana. Aku masih duduk di teras rumah kumuhku. Sudah berulang kali ibu menyuruh untuk masuk ke rumah, tetapi sedikitpun tidak kugubris. Yang kulakukan masih tetap sama: menunggu seseorang yang tak kunjung tiba. Tak dinyana angka sudah menunjukkan pukul 1:00 dini hari. Waktu memang selalu begitu. Tak akan pernah lelah berputar sekalipun aku meminta nanar. Akhirnya, aku menyerah. Kuhentikan egoku untuk menunggu. Logikaku memaksa untuk masuk ke bilikku yang sempit dan gelap. Hanya ada penerang seadanya. Kulirik du...

SALAH SANGKA

SALAH SANGKA Deru azan melanglang. Berdesir indah di relung jiwa. Sangat indah, damai, nyaman. Langit hitam dipenuhi bintang gemintang semakin mengharukan hati para pemujinya. Dia mengambil air wudhu di tengah denting air nan damai. Tubuhnya yang kekar menunjukkan kekuatan yang tersimpan didalamnya. Pandangan itu sangat teduh. Seakan tiada mempunyai hambatan dalam hidup. Dia mengambil kopiah dan sajadah kemudian diselampirkannya di bahu. Sungguh tampak gagah. Pemuda itu berjalan mendekatiku yang sedang asyik dengan laptop. ”Dila sholat dulu!”bentaknya kasar. “Bentarlah sedikit lagi ini” jawabku tak kalah kasar. Dia memandangi kesal kearahku. Aku tak ayal lagi seperti patung yang membeku tak bergerak sedikitpun walau wajah kesal itu terus menatap. Aku tahu seharusnya aku lakukan saja perintahnya agar dia segera pergi dari hadapanku. Tetapi caranya menyuruh membuat aku muak dan merasa dia adalah anak sulung yang mengatur semua urusan adiknya. “Dila..” panggilnya lagi. Tatapank...

Mutiara yang Hilang

Mutiara yang Hilang           Aku terhempas dalam jaring dunia yang gelap dan kejam. Menyeretku kedalam dunia antah berantah. Tersuruk di dalamnya, terperangkap dan terjerumus. Tak ada yang menghalang dan melarang. Terhimpit dalam kenyamanan dunia, maya akan kegelapan. Hati kecil menjerit hentikan semua, tapi nafsu membentak ingin menang dan kuasa atas segala yang ada hingga tak bisa terlepas darinya. Aku hanya teriris tanpa ada hati yang tersakiti. Tanpa air mata dan perasaan. Nanar tiada tara tersembunyi dalam lorong hitam pukat. Dunia sangat ironis dan tak beralasan membiarkanku seorang diri di bumi tua nan gersang ini.Sungguh aku tak inginkan hidup ini.             Aku anak tunggal yang tidak diinginkan orang tuaku untuk hidup. Kehadiranku sungguh bencana besar bagi kedua orang tuaku yang tidak terikat dengan ikatan suci perkawinan. Di hari itu pula, satu mataku kehilangan ca...

SECARIK HARAPAN

SECARIK HARAPAN             Hembusan angin yang beriak – riak menerbangkan dedaunan yang hilir mudik terbawa suasana indahnya pepohonan sore itu. Tampak nyata sesuai pemilik hati yang melihat. Sangat nyaman, tentram. Angin barat membuat mood seseorang akan berubah lebih baik. Tak terkecuali Nina yang duduk di ayunan. Berteduh di bawah pohon dan teman yang masih bermain di taman. Anak – anak kelas 1 SD itu masih setia dengan ayunan masing – masing. Tapi ada mendung di wajah Nina. Kontras sekali dengan suasana di sekitarnya. Kau tahu apa ? Tak dinyana, dia sedang memikirkan ibu yang marah ketika ia pergi ke rumah teman tanpa izin. Masih mengingat bagaimana dia di di- setrap dan berjanji tidak akan mengulangi. Begitu juga sering membantah kepada Ibu ketika disuruh sesuatu. Alam bangga akan Nina. Kecil itu sudah berfikir tentang dewasa. “Nina, ayo pulang,” ajak Icha teman mainnya. Yang ditanya masih tetap melamun. Lantas Icha...