CAHAYA YANG SEMPAT HILANG Semilir angin kencang memelukku di malam yang sunyi nan gelap. Terasa mesra sekali. Hingga tanpa sadar, belaiannya nyata telah sampai ke sumsum tulangku, meremukkan setiap bagiannya. Pun pepohonan yang tak berhenti menggoyangkan dedaunan, laksana berebut oksigen yang ada disekitarnya. Semakin mendramatisir, langit bersikap seolah ia bermuram durja, seperti tau sesuatu yang akan terjadi berikutnya. Sebuah rahasia besar telah menanti disana. Aku masih duduk di teras rumah kumuhku. Sudah berulang kali ibu menyuruh untuk masuk ke rumah, tetapi sedikitpun tidak kugubris. Yang kulakukan masih tetap sama: menunggu seseorang yang tak kunjung tiba. Tak dinyana angka sudah menunjukkan pukul 1:00 dini hari. Waktu memang selalu begitu. Tak akan pernah lelah berputar sekalipun aku meminta nanar. Akhirnya, aku menyerah. Kuhentikan egoku untuk menunggu. Logikaku memaksa untuk masuk ke bilikku yang sempit dan gelap. Hanya ada penerang seadanya. Kulirik du...