Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...

Sehangat Senyuman

Sehangat Senyuman             Jalanan kota sangat padat oleh lalu lalang orang – orang yang hilir mudik. Sangat tidak peduli akan apa yang terjadi di sekitar. Debu polusi kian memanas, sehangat mentari yang selalu menyinari. Gedung – gedung bertingkat seakan tiada habisnya. Membuat kota semakin ramai atas kesibukan. Anak – anak jalanan semakin banyak, seiring pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Semakin membabi buta tindak korupsi yang melanda negeri ini. Jumlah pengangguran juga tidak kalah menarik. Survei membuktikan bahwa 9,8 % jumlah angka pengangguran 2 tahun terakhir. Krisis ini sangat mempengaruhi seluruh warga Indonesia.             Ani adalah salah satu anak pinggir kota yang hidup dalam kemiskinan di jalanan. Biasa menjual beberapa antik kecil yang dijajakan di kotak yang selalu dibawa ketika lampu merah menyala. Setara dengan anak SMA tetapi mengundi nasib di jalanan luas. Satu satunya kerabat yang dimiliki. Ha...

SECARIK HARAPAN

SECARIK HARAPAN             Hembusan angin yang beriak – riak menerbangkan dedaunan yang hilir mudik terbawa suasana indahnya pepohonan sore itu. Tampak nyata sesuai pemilik hati yang melihat. Sangat nyaman, tentram. Angin barat membuat mood seseorang akan berubah lebih baik. Tak terkecuali Nina yang duduk di ayunan. Berteduh di bawah pohon dan teman yang masih bermain di taman. Anak – anak kelas 1 SD itu masih setia dengan ayunan masing – masing. Tapi ada mendung di wajah Nina. Kontras sekali dengan suasana di sekitarnya. Kau tahu apa ? Tak dinyana, dia sedang memikirkan ibu yang marah ketika ia pergi ke rumah teman tanpa izin. Masih mengingat bagaimana dia di di-setrap dan berjanji tidak akan mengulangi. Begitu juga sering membantah kepada Ibu ketika disuruh sesuatu. Alam bangga akan Nina. Kecil itu sudah berfikir tentang dewasa. “Nina, ayo pulang,” ajak Icha teman mainnya. Yang ditanya masih tetap melamun. Lantas Icha mendorong tubuh Nina hampir terjatuh...

Mutiara yang Hilang

Mutiara yang Hilang           Aku terhempas dalam jaring dunia yang gelap dan kejam. Menyeretku kedalam dunia antah berantah. Tersuruk di dalamnya, terperangkap dan terjerumus. Tak ada yang menghalang dan melarang. Terhimpit dalam kenyamanan dunia, maya akan kegelapan. Hati kecil menjerit hentikan semua, tapi nafsu membentak ingin menang dan kuasa atas segala yang ada hingga tak bisa terlepas darinya. Aku hanya teriris tanpa ada hati yang tersakiti. Tanpa air mata dan perasaan. Nanar tiada tara tersembunyi dalam lorong hitam pukat. Dunia sangat ironis dan tak beralasan membiarkanku seorang diri di bumi tua nan gersang ini.Sungguh aku tak inginkan hidup ini.             Aku anak tunggal yang tidak diinginkan orang tuaku untuk hidup. Kehadiranku sungguh bencana besar bagi kedua orang tuaku yang tidak terikat dengan ikatan suci perkawinan. Di hari itu pula, satu mataku kehilangan cahaya terang dan kekuatan untuk bisa dibuka secara utuh...

MIMPI NYATA

MIMPI NYATA Pesawat yang kunaiki ini tinggal lepas landas pagi ini. Segera mengencangkan sabuk pengaman. Lagi-lagi aku ke benua Eropa terus menanam bibit bibit kecil tanaman mimpi yang selalu tertulis di buku agendaku. Adik kecil dua bangku disebelah terus saja menangis. Kasihan melihatnya. Ibunya berusaha membujuk agar diam takut mengganggu sekitar. Sejak dari tadi telepon genggam telah di-non aktifkan­-kan. Akan ada banyak panggilan tak terjawab dari beberapa korelasi bisnisku. Managerku pun tak kalah sibuknya. Sejenak saja agar aku menenangkan pikiran walau tetap akan ada pertemuan disana. Kuinjakkan kaki di negeri antah berantah ini. Menara Eiffel itu tampak berdiri kokoh tanpa bantuan. Benar saja banyak panggilan tak terjawab itu, tapi tunggu, ada satu panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal, nomor yang selama ini samar samar dalam ingatan. Langung saja aku mencoba menelpon balik.                “Assalamu’alaikum Adam, ini aku Ridwan” ...