ANAK KECIL NURAM DURJA
Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak
oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam,
hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan
alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa
cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi
menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang
berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.
Alif
anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam diam, menyender pohon Ceri yang bahagia
itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot. Urung pulang, hanya menepi
menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang
idiot dan didukung oleh kenyataan
bahwa berada di peringkat ke 32 dari 33 orang di kelas mereka. Lantas saja
dipanggil idiot oleh teman sepantaran
kelas III SD. Menerima pelajaran dengan mudah adalah sesuatu yang sangat sulit
baginya. Bahkan untuk mengerti arti dari sebuah pertanyaan sangat sulit,
apalagi menjawabnya.
Hari – hari dilewati tanpa adanya
perubahan yang berarti. Tidak terasa Ujian Semester II kelas 3 pun datang. “Alif belajar nak, besok ujian!”perintah
mama dari ruang TV. Alif yang sedang membuat contekan-contekan kecil menyahut. ”Ya Mama”seolah sedang belajar. Baru ujian kali ini dia ingin mencoba
membuat contekan di kertas-kertas kecil. Agar nilainya sedikit mendongkrak dan
tidak dipanggil idiot lagi. Tekat itu
sudah bulat. Dengan sangat teliti menulis ulang materi-materi pelajaran IPS di
kertas – kertas kecil lalu digulung dan dimasukkan kedalam tas. Esok akan
diletakkan di laci meja ujian pikirnya. Rencana itu akan sangat sukses, senyum ia
menyambut hari esok yang indah.
“Idiot..
uda siap menerima kenyataan,bahwa kau akan mendapat peringkat ke 33 dari 33
orang, HA..HA..HA..” tawa Reza yang sengik itu membuat Alif ingin muntap
tapi urung karena mempunyai rencana yang sangat manis untuk memukul telak. Peringkat pertama yang selalu ia dapat
membuatnya menjadi sangat sombong juga teman-teman yang tidak jauh berbeda
peringkatnya. Selalu mencemooh orang-orang yang berada di peringkat jauh di
bawah mereka.
Rencana telah tersusun rapi. Ujian
baru saja dimulai. Ingin melihat langung contekan tersebut, tetapi sebenarnya
takut ketahuan oleh guru. Lantas saja ketika Alif berhasil bertarung melawan
hati sendiri, Ibu guru mendapatinya langsung ketika ia belum sempat membaca. Ibu
Sony membentak dari belakang meja dan merebut kertas yang dipengang. Tahu apa
yang terjadi Alif langsung disuruh pulang dan tidak boleh ikut ujian.
Alif sangat kaget dan segera ingin
menangis melihat semua kawan-kawan juga malah ikut menertawakan. Pulang dan
segera menatap pengunungan dibawah aliran- aliran sungai itu. Menangis,
lagi-lagi menangis. Ingin mengadu pada gunung yang tegak disana. Tapi dia hanya
bisu dan tak tahu rimba. Ingin mengadu pada Mama dan Papa tetapi mereka masih
pergi bekerja tinggallah ia sendiri. Tampak diam seolah menikmati dalam hening.
Tampak tenang seolah mempunyai kebahagiaan tersendiri. Tapi lihatlah. Bahkan
untuk sekedar menangis saja langit langit seolah sedang mengujinya. Idiot adalah kata yang menyakitkan
baginya. Dengan bentakan dan hardikan guru itu lebih dari cukup untuk tidak
mengulangi perbuatan itu lagi. Tetapi adik kecil itu bingung bagaimana caranya
agar tidak diberi julukan itu lagi.
Siang itu juga. Ketika hendak pulang
ke rumah terlintas di benak bagaimana
kalau dengan belajar. Ide itu disambut semangat oleh pemiliknya. Selesai
Sholat Dzhur. Dibukanya buku matematika.
Belajar dan mengingat apa yang bisa diingat. Sangat sulit untuk mengerti semua
materi yang diajarkan, jadi hanya bagian yang mudah ia ingat dan hafal. Mama
heran melihat anaknya sudah mau belajar sekarang. Senyum mengembang menghiasi
muka berserinya. Mama tahu hari itu adalah hari yang amat berarti bagi
keluarganya, seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
Banyak soal yang tidak bisa dijawab
dan sedikit yang bisa dijawab pun tidak pasti kebenarannya. Alif hanya
mengerjakan sebisanya. Ejekan-ejekan tersebut terdengar lagi ketika ingin
pulang. Membiarkan dan menjadi angin lalu. Kali ini dia akan terbiasa untuk
tidak menghiraukan. Setiap hari dia belajar yang yang hanya dimengerti saja.
Pun dengan soal-soal esoknya tak banyak yang dapat dijawab. Sangat tidak terasa
waktu ujian berlalu. Pengumuman hasil ujian kami pun akan diadakan esok. Ibu
akan datang bersamaku untuk mengambil rapor. Esok adalah masa yang mendebarkan.
Muhammad Alif berada di peringkat ke
24 dari 33 siswa. Mama senang ketika melihat rapor. Alif langsung terlonjak
girang bukan kepalang. Baru kali ini mendapat peringkat ke-20an. Sungguh tidak
menyangka. Hari itu terpetik himah dari kehagiaan ibu dan anak tersebut.”Untuk menjadi pintar bukan hanya sekedar
mendapat julukan pintar oleh teman, bukan pula mencari jalan pintas nan buruk,
bukan pula hanya sekedar menangis menatap nasip yang pedih, tetapi ada sesuatu
yang sangat mulia harus dilakukan tidak sulit tetapi hanya sekedar berusaha”.Pesan
itu menyelusuk ke hati anak tersebut. Sekarang ia mengerti.
Setelah ia mengetahui bagaimana
strategi pembelajaran yang baik semakin tinggi kelas yang diduduki semakin
tinggi pula peringkat yang didapat. Semester I kelas 4 mendapat peringkat 20, semester II peringkat 10, semester I
kelas 5 peringkat 8, semester II peringkat 5, semester I kelas 6 peringkat III.
Satu persatu teman berhasil dilampaui. Kini semester II akhir ini dia akan
merebut peringkat pertama yang selalu Reza dapatkan . Reza yang dulunya sangat
menyepelekannya. Kini telah membuat perhitungan kepada Alif. Sangat tidak
disangka bahwa Alif mampu berada di peringkat III sekarang. Tetapi angin tidak selalu berada di pihak
kita. Reza kembali mendapatkan peringkat pertama dan Alif berada di peringkat
kedua.
Tunggu dulu teman, adik kecil kita
ini ternyata mempunyai jiwa yang pantang menyerah. Memang akhirnya mereka
berteman karena Reza mengakui kesalahan selama ini karena mengolok. Tapi kau
tahu ternyata aku melihat 20 tahun kedepan. Alif si adik kecil kita tadi adalah
seorang ilmuan terkenal. Melakukan berkali – kali observasi dan menemukan partikel lain yang belum pernah ditemukan
di Periodik Unsur Kimia namanya
melambung dan dikenal oleh seluruh dunia. Oh..betapa
bangga melihatnya. “Betapa istimewa seseorang di kala dalam sesenggukan tangisan yang ia punya terdapat jiwa – jiwa yang
pantang menyerah. Betapa hidup sangat menyenangkan dan berarti di kala
mengetahui hakikat kehidupan yang ia miliki. Sungguh sepertimu yang duduk
membaca cerita ini”
Princess Khodijah mempunyai nama
asli Fadhilah Muslimah, pembawaanya yang riang sering membuat orang tertipu
akan sifat aslinya. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi alamat email fadhilahmuslimah@yahoo.com,
Fadhilah Muslimah Ats,@princesskhodija, biasa menulis sejak awal masuk
perkuliahan. Beberapa tulisannya telah dimuat di berbagai buku antologi cerpen.
Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak
oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam,
hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan
alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa
cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi
menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang
berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.
Alif
anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam diam, menyender pohon Ceri yang bahagia
itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot. Urung pulang, hanya menepi
menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang
idiot dan didukung oleh kenyataan
bahwa berada di peringkat ke 32 dari 33 orang di kelas mereka. Lantas saja
dipanggil idiot oleh teman sepantaran
kelas III SD. Menerima pelajaran dengan mudah adalah sesuatu yang sangat sulit
baginya. Bahkan untuk mengerti arti dari sebuah pertanyaan sangat sulit,
apalagi menjawabnya.
Hari – hari dilewati tanpa adanya
perubahan yang berarti. Tidak terasa Ujian Semester II kelas 3 pun datang. “Alif belajar nak, besok ujian!”perintah
mama dari ruang TV. Alif yang sedang membuat contekan-contekan kecil menyahut. ”Ya Mama”seolah sedang belajar. Baru ujian kali ini dia ingin mencoba
membuat contekan di kertas-kertas kecil. Agar nilainya sedikit mendongkrak dan
tidak dipanggil idiot lagi. Tekat itu
sudah bulat. Dengan sangat teliti menulis ulang materi-materi pelajaran IPS di
kertas – kertas kecil lalu digulung dan dimasukkan kedalam tas. Esok akan
diletakkan di laci meja ujian pikirnya. Rencana itu akan sangat sukses, senyum ia
menyambut hari esok yang indah.
“Idiot..
uda siap menerima kenyataan,bahwa kau akan mendapat peringkat ke 33 dari 33
orang, HA..HA..HA..” tawa Reza yang sengik itu membuat Alif ingin muntap
tapi urung karena mempunyai rencana yang sangat manis untuk memukul telak. Peringkat pertama yang selalu ia dapat
membuatnya menjadi sangat sombong juga teman-teman yang tidak jauh berbeda
peringkatnya. Selalu mencemooh orang-orang yang berada di peringkat jauh di
bawah mereka.
Rencana telah tersusun rapi. Ujian
baru saja dimulai. Ingin melihat langung contekan tersebut, tetapi sebenarnya
takut ketahuan oleh guru. Lantas saja ketika Alif berhasil bertarung melawan
hati sendiri, Ibu guru mendapatinya langsung ketika ia belum sempat membaca. Ibu
Sony membentak dari belakang meja dan merebut kertas yang dipengang. Tahu apa
yang terjadi Alif langsung disuruh pulang dan tidak boleh ikut ujian.
Alif sangat kaget dan segera ingin
menangis melihat semua kawan-kawan juga malah ikut menertawakan. Pulang dan
segera menatap pengunungan dibawah aliran- aliran sungai itu. Menangis,
lagi-lagi menangis. Ingin mengadu pada gunung yang tegak disana. Tapi dia hanya
bisu dan tak tahu rimba. Ingin mengadu pada Mama dan Papa tetapi mereka masih
pergi bekerja tinggallah ia sendiri. Tampak diam seolah menikmati dalam hening.
Tampak tenang seolah mempunyai kebahagiaan tersendiri. Tapi lihatlah. Bahkan
untuk sekedar menangis saja langit langit seolah sedang mengujinya. Idiot adalah kata yang menyakitkan
baginya. Dengan bentakan dan hardikan guru itu lebih dari cukup untuk tidak
mengulangi perbuatan itu lagi. Tetapi adik kecil itu bingung bagaimana caranya
agar tidak diberi julukan itu lagi.
Siang itu juga. Ketika hendak pulang
ke rumah terlintas di benak bagaimana
kalau dengan belajar. Ide itu disambut semangat oleh pemiliknya. Selesai
Sholat Dzhur. Dibukanya buku matematika.
Belajar dan mengingat apa yang bisa diingat. Sangat sulit untuk mengerti semua
materi yang diajarkan, jadi hanya bagian yang mudah ia ingat dan hafal. Mama
heran melihat anaknya sudah mau belajar sekarang. Senyum mengembang menghiasi
muka berserinya. Mama tahu hari itu adalah hari yang amat berarti bagi
keluarganya, seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
Banyak soal yang tidak bisa dijawab
dan sedikit yang bisa dijawab pun tidak pasti kebenarannya. Alif hanya
mengerjakan sebisanya. Ejekan-ejekan tersebut terdengar lagi ketika ingin
pulang. Membiarkan dan menjadi angin lalu. Kali ini dia akan terbiasa untuk
tidak menghiraukan. Setiap hari dia belajar yang yang hanya dimengerti saja.
Pun dengan soal-soal esoknya tak banyak yang dapat dijawab. Sangat tidak terasa
waktu ujian berlalu. Pengumuman hasil ujian kami pun akan diadakan esok. Ibu
akan datang bersamaku untuk mengambil rapor. Esok adalah masa yang mendebarkan.
Muhammad Alif berada di peringkat ke
24 dari 33 siswa. Mama senang ketika melihat rapor. Alif langsung terlonjak
girang bukan kepalang. Baru kali ini mendapat peringkat ke-20an. Sungguh tidak
menyangka. Hari itu terpetik himah dari kehagiaan ibu dan anak tersebut.”Untuk menjadi pintar bukan hanya sekedar
mendapat julukan pintar oleh teman, bukan pula mencari jalan pintas nan buruk,
bukan pula hanya sekedar menangis menatap nasip yang pedih, tetapi ada sesuatu
yang sangat mulia harus dilakukan tidak sulit tetapi hanya sekedar berusaha”.Pesan
itu menyelusuk ke hati anak tersebut. Sekarang ia mengerti.
Setelah ia mengetahui bagaimana
strategi pembelajaran yang baik semakin tinggi kelas yang diduduki semakin
tinggi pula peringkat yang didapat. Semester I kelas 4 mendapat peringkat 20, semester II peringkat 10, semester I
kelas 5 peringkat 8, semester II peringkat 5, semester I kelas 6 peringkat III.
Satu persatu teman berhasil dilampaui. Kini semester II akhir ini dia akan
merebut peringkat pertama yang selalu Reza dapatkan . Reza yang dulunya sangat
menyepelekannya. Kini telah membuat perhitungan kepada Alif. Sangat tidak
disangka bahwa Alif mampu berada di peringkat III sekarang. Tetapi angin tidak selalu berada di pihak
kita. Reza kembali mendapatkan peringkat pertama dan Alif berada di peringkat
kedua.
Tunggu dulu teman, adik kecil kita
ini ternyata mempunyai jiwa yang pantang menyerah. Memang akhirnya mereka
berteman karena Reza mengakui kesalahan selama ini karena mengolok. Tapi kau
tahu ternyata aku melihat 20 tahun kedepan. Alif si adik kecil kita tadi adalah
seorang ilmuan terkenal. Melakukan berkali – kali observasi dan menemukan partikel lain yang belum pernah ditemukan
di Periodik Unsur Kimia namanya
melambung dan dikenal oleh seluruh dunia. Oh..betapa
bangga melihatnya. “Betapa istimewa seseorang di kala dalam sesenggukan tangisan yang ia punya terdapat jiwa – jiwa yang
pantang menyerah. Betapa hidup sangat menyenangkan dan berarti di kala
mengetahui hakikat kehidupan yang ia miliki. Sungguh sepertimu yang duduk
membaca cerita ini”
Princess Khodijah mempunyai nama
asli Fadhilah Muslimah, pembawaanya yang riang sering membuat orang tertipu
akan sifat aslinya. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi alamat email fadhilahmuslimah@yahoo.com,
Fadhilah Muslimah Ats,@princesskhodija, biasa menulis sejak awal masuk
perkuliahan. Beberapa tulisannya telah dimuat di berbagai buku antologi cerpen.b
Komentar
Posting Komentar