Langsung ke konten utama

SECARIK HARAPAN



SECARIK HARAPAN


            Hembusan angin yang beriak – riak menerbangkan dedaunan yang hilir mudik terbawa suasana indahnya pepohonan sore itu. Tampak nyata sesuai pemilik hati yang melihat. Sangat nyaman, tentram. Angin barat membuat mood seseorang akan berubah lebih baik. Tak terkecuali Nina yang duduk di ayunan. Berteduh di bawah pohon dan teman yang masih bermain di taman.
Anak – anak kelas 1 SD itu masih setia dengan ayunan masing – masing. Tapi ada mendung di wajah Nina. Kontras sekali dengan suasana di sekitarnya. Kau tahu apa ? Tak dinyana, dia sedang memikirkan ibu yang marah ketika ia pergi ke rumah teman tanpa izin. Masih mengingat bagaimana dia di di-setrap dan berjanji tidak akan mengulangi. Begitu juga sering membantah kepada Ibu ketika disuruh sesuatu.
Alam bangga akan Nina. Kecil itu sudah berfikir tentang dewasa. “Nina, ayo pulang,” ajak Icha teman mainnya. Yang ditanya masih tetap melamun. Lantas Icha mendorong tubuh Nina hampir terjatuh. “Aduh.. Kamu ini ngagetin aja. Icha gimana kalau kita buat rekaman puisi untuk Ibu. Sebentar lagi kan hari Ibu. Aku ingin dia tersenyum kepadaku,” ujar Nina tiba – tiba. Icha masih bingung, tidak pernah telintas di benaknya seperti itu.
***
            “Aduh.. gimana sih cara buat puisi ?” sembari membuang kertas ke-20 seenaknya. Jika mereka yang melihat dua anak kecil yang bergelantungan di atas pohon ceri. Maka tak lain adalah Nina dan Icha. “ Buat saja lah, terserah hatimu Nina, toh ibu akan bangga apapun yang kau tulis,” Iya juga ya.. Ibu akan bangga.
            Ibu sayang terima kasih
            Ibu sayang maaf padamu
            Ibu sayang tutur rindu untukmu
            Selamat hari Ibu
Cintaku padamu
            Sembari menunjukkan hasil, sekali lagi aku celingak celinguk membayangkan wajah ibu tersenyum indah.
***
Sebuah rumah yang beratap teralih tebal. Berdinding tembok kuat berwarna krim muda. Belum lagi bunga – bunga sekitarnya mengisyaratkan kedamaian dan kesegaran. Tampak luas, bahagia, dan indah di luar. Tapi lihatlah seorang ibu sedang terbaring lemah menahan sakit yang selama ini dipendam. Suami yang selalu setia tak urung membuatnya memberi tahu. Pergi pagi pulang malam membuat mereka tidak selalu terbuka tentang remeh temeh. Tiga anak yang selalu pergi juga menjadi hambatan. Si Sulung Buyung telah mendapat pasangan dan membangun rumah di Pekan Baru. Si Mega tengah merantau menuntut Ilmu di Medan. Dan si bungsu Nina yang senang bermain.
Kadang sakit membuatku lupa akan atas tugasku sebagai seorang Ibu, sehingga jarang aku menasehati mereka yang tengah mencari kebenaran sendiri. Kadang juga membuatku lupa akan seberapa pentingnya seorang istri untuk suaminya. Hari ini tanggal 21 Desember. Tapi sakit ini semakin parah..
***
            Tanggal 22 Desember. Ruangan asri putih itu dipenuhi kerabat yang hilir mudik. Bau obat – obatan terasa sangat menyengat. Belum lagi para suster yang lalu lalang menambah banyak orang yang berkunjung hari ini. Masih terlihat mata Nina yang sembab oleh air mata. Hari ini Ibu seharusnya tengah melihat rekaman video serta dengan senyum manis itu. Tetapi ibu sedang terbaring lemah.
            “Ayah..” sembari memeluknya.
            “Nina ingin menunjukkan video ini ke Ibu” tunjuknya ke sebuah kamera Digital keluarga.
            Demi melihat anaknya, ia bangga, tersenyum mengacak rambut si kecil. “Perlihatkan saja kepada Ibu, walau Ibu tampak tidak melihat tetapi Ibu melihat,” saran ayah
            Hanya semenit ketidak percayaan itu. Tetapi tidak salahnya mencoba. Di tengah kerumunan karib kerabat Nina memperlihatkan video tersebut. Seolah Ibu akan melihat. Sangat tidak masuk akal karena Ibu juga tidak beraksi apa apa. Nina kembali menangis.
            Puisi itu akan berkumandang seiring tumbuh kembangku. Penyesalan tiada kian berguna sampai aku benar untuk berbeda. Walau kau tak tampak, aku akan selalu setia sampai batas waktu. Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Aku mencintaimu.
***
            Mempunyai nama asli Fadhilah Muslimah. Berminat dalam dunia tulis menulis. Serta tak luput untuk membuat puisi – puisi indah. Tampak diam seolah dewasa tapi sangat periang di dalam. Akun facebook : Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija, fadhilahmuslimah@yahoo.com 081377226311


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...

Permata di Laut Biru

Hempasan ombak berganti berebut mengejar angin yang lari kian menjauh Ombak masih terus giat mengejar hingga nafasnya tetap stabil atau kadang buncah Masih dengan pola pikir yang sama Masih dengan laut atau bumi yang sama Permata indah seakan mengerjap nun jauh di bawah sana Cangkangnya terbuat dari buntalan besi atau tembaga seberat ribuan ton Akankah ada yang bisa mengusiknya? Kini permata sudah bisa tersenyum menghadap apa yang diberikan kepadanya Seperti cinta, harta, atau kedudukan kelak Usikan usikan kini kian menghantam Ratapan dari atas kian terdengar merana Sampai habis air matanya tenggelam dalam kenangan pahit Tapi liat lah,   permata masih tetap enggan berhenti tersenyum Dia tetap senang gembira tertawa Hey... Bahkan dia kini hampir menendang Dia tahu apa yang akan terjadi padanya Pada denyut nadi atau cangkangnya Dia riang menerimanya hingga sampai waktunya Tetap tersenyum menghadap Tuhan Nya Hingga permata kian bersinar pada cahaya...

Aliran Senja

Aliran Sungai hilir mudik berebut tempat untuk nestapa Hanya aliran yang mengenang dengan hembusan nyanyian angin bersama inang nya Masuk ke celah celah cahaya yang sempat padam Terus menggelisik menemukan jamuannya Hinggap sebentar di perkumpulan Cahaya Lihatlah, hembusan hembusan nafas tersebut naik terus ke atas sana Sangat mengharu dengan nyanyian nyanyian rindu  besar menjunjung tinggi cahaya sampai menghitam kelat dimakan rembulan Wahai... Tetap membesar walau duri kadang menghadang Hingga sampai tiba saatnya Meledak... Ribuan kunang membasahi hingga sampai ke akarnya Sangat indah bagai rembulan di kala senja Aku terpaku... Mentapaki tapak demi tapak genangan air menghujam jiwaku Sungguh alangkah indah Cahaya Nya