CAHAYA
YANG SEMPAT HILANG
Semilir angin kencang
memelukku di malam yang sunyi nan gelap. Terasa mesra sekali. Hingga tanpa
sadar, belaiannya nyata telah sampai ke sumsum tulangku, meremukkan setiap
bagiannya. Pun pepohonan yang tak berhenti menggoyangkan dedaunan, laksana
berebut oksigen yang ada disekitarnya. Semakin mendramatisir, langit bersikap seolah
ia bermuram durja, seperti tau sesuatu yang akan terjadi berikutnya. Sebuah
rahasia besar telah menanti disana.
Aku
masih duduk di teras rumah kumuhku. Sudah berulang kali ibu menyuruh untuk
masuk ke rumah, tetapi sedikitpun tidak kugubris. Yang kulakukan masih tetap
sama: menunggu seseorang yang tak kunjung tiba. Tak dinyana angka sudah menunjukkan
pukul 1:00 dini hari. Waktu memang selalu begitu. Tak akan pernah lelah
berputar sekalipun aku meminta nanar. Akhirnya, aku menyerah. Kuhentikan egoku
untuk menunggu. Logikaku memaksa untuk masuk ke bilikku yang sempit dan gelap.
Hanya ada penerang seadanya. Kulirik dua adik kembarku yang sudah terlelap,
dengan hati yang masih kesal, kuputuskan untuk menyusul mereka. Dan dalam
sepersekian menit, aku sudah bernaung pada mimpi yang sangat panjang.
***
Adzan
subuh tengah berkumandang. Ku bangunkan Ana dan Ani sampai mereka menyerah
untuk tidak menuruti keinginanku. Dalam remang, kulihat ibu yang bersiap untuk
berwudhu. Pandanganku beralih ke bilik itu. Ayah pasti masih terlelap setelah
pulang sangat larut. Sebenarnya, semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini
bermula dari ayah. Entah sejak kapan pandangan Ayah terhadap shalat berubah.
Dan sejak saat itu, ibulah yang selalu
mengingatkan kami untuk shalat.
“Ibu,
Ina akan menjual 3 kotak kue hari ini. Murid- murid SMA itu kelihatannya semakin menyukai kue
yang kita jual,” kataku setelah ibu menyelesaikan bacaan Qur’annya. Ibu tersenyum
padaku. Sebelumnya, kulangkahkan kaki menuju bilik itu, tempat ayah
mengistirahatkan fisiknya yang terlihat lelah. Berkali kali ku membangunkannya,
awalnya dia hanya menyuruhku untuk pergi sampai akhirnya dia marah besar
padaku. “Ina, jangan sekali kali kau ingatkan aku sholat!” ancamnya kepadaku.”Ayah
boleh berbeda paham tentang hal lain tapi jangan hal sholat !” pintaku memelas
meski wajahnya semakin berang melihatku. Seketika ibuku datang dan menyuruh
ayah sholat dengan lembut, tapi Ayah sudah merah padam. “Kalian akan menyesal
tidak mempercayaiku kalau sholat itu cukup dengan mengingatnya saja tidak perlu
melakukannya,” marahnya pada kami. Aku tidak tahu aliran apa yang diikuti
ayahku beberapa hari belakangan. “Tidak kamu yang akan menyesal!” Jawab ibuku
tidak tahan dengan semua yang terjadi akhir minggu ini. Aku tidak menyangka hal
ini membuat ibu dan ayahku saling bersahut sahutan melontarkan kemarahan
mereka. Aku melerai mereka tapi ayahku menyuruhku untuk diam dan keluar. Ayahku
pergi meninggalkan keangkuhan yang menggantung pada pagi ini, meninggalkanku,
ibu, dan kedua adikku yang masih mengenakan seragam SMP. Aku segera pergi untuk
berjualan dengan tangis yang terpendam sedang ibu melanjutkan pekerjaan
menjahitnya.
Ayah
pulang lewat tengah malam setiap harinya dan selalu diwarnai dengan keributan-keributan
di rumah. Aku lebih suka menghabiskan waktu berjualan dari pada mendengar
keributan itu. Pagi ini adalah puncaknya. Ayah menjatuhkan talak pada ibu dan
memutuskan aku dan adik adikku tak tinggal dan dibiayai olehnya. Spontan aku
menahan ayah untuk tak pergi dari rumah dengan berurai air mata. Kupegang
tangannya sambil bersedekap dalam duduk tindihku. Ayah tak bergeming dan terus
berlalu. Kutatap punggung yang berjalan semakin menjauh dari pandanganku dan
akhirnya menghilang. Yang kutahu, pagi ini kami telah kehilangan ayah.
***
“Ayah..
lebah, Ayah mataku disengat” teriakku sekencang kencangnya di depan rumah. Ayah
langsung berlari meninggalkan tugas menilai hasil ulangan murid madrasahnya
dengan panik. Dia langung membawa minyak Zaitun yang teruji keampuhannya dalam
mengobati segala macam penyakit. Dia mengolesi minyak itu dengan sigap ke
bagian mataku yang disengat. Aku meringgis kesakitan dan menangis sejadi
jadinya. Ayahku menggiringku masuk kedalam rumah dan menenangkanku, menyuruhku
tidur siang agar rasa sakitnya cepat hilang. Ah, indahnya bila dikenang.
Ayah dan Ibu saling menyayangi. Tak jarang
Ayah mencoba menggoda Ibu, tetapi Ibu sering gengsi jika di depanku. Aku
terkekeh melihat mereka seperti pengantin baru. Hidupku terasa indah sekali.
Empat tahun masa masa indah bersama lahir adik kembarku yang menambah cinta dan
kasih sayang diantara kami. Ayahku tetap memperhatikanku walau aku sudah
menjadi kakak sampai aku menamatkan Madrasah Aliyahku dan memutuskan untuk
berjualan kue di SMAN1 Bengkulu setelah tidak mendapatkan pekerjaan dengan
ijazah MA. Tetap saja, semua hanya tinggal cerita. Ayah, sekarang engkau
dimana?
***
Ibu
dan aku bekerja keras untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya
sekolah kedua adikku. Ibu menjadi kuli cuci di rumah-rumah tetangga sedangkan aku
memutuskan untuk berjualan siang dan malam. Sudah setahun berlalu sejak tiada
ayah. Pagi itu Ibu terlihat sangat pucat untuk bekerja. Aku melarangnya untuk
pergi mencuci. Tetapi ibu memaksa. Pagi itu, setelah berangkat jualan, aku mendapat
berita bahwa ibu pingsan ketika sedang bekerja di rumah tetangga. Segera kubawa
ibu ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Ternyata ibuku telah lama mengindap
penyakit Typus. Empat hari kemudian
terdengar berita duka ke telinga ayahku bahwa ibu sudah meninggal. Pada saat bersamaan,
pemimpin aliran yang selama ini dipercaya ayah dipenjara karena menyandang
kasus mengajarkan aliran sesat. Ayah sangat menyesal telah mengorbankan semua
demi hal yang tidak pasti. Ayah sangat menyesal dengan semua kejadian ini.
Ayah
turut menghadiri pemakaman ibu. Setelah semuanya selesai, ayah mendatangi kami
dan meminta maaf. “Ayah yang akan mengurus kalian menggantikan ibu. Ayah janji
tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya”, katanya
kemudian. Aku tersenyum hangat. Tanpa sadar airmata mengalir dari kedua pipiku.
Ayah kembali dan ibu pergi. Apa ini yang dikatakan takdir? Setidaknya, setengah
dari cahayaku sudah kembali. “Selamat datang ayah, selamat jalan ibu. Aku cinta
akan kalian berdua,” bisikku pelan.
***
Cahaya itu tidak akan hilang
selamanya. Dia akan selalu ada di hati lorong lorong gelap. Allah menjaga
cahaya. Tampak hilang tetapi tidak, dia hanya bersembunyi didalam lorong gelap
yang lain. Jika kau mau percaya ada hal dibalik hal. Simpan cahayamu dan
yakinkan cahayanya tak akan redup.
Nama seorang novelis terkenal tahun
2020 Fadhilah Muslimah, tak jarang
menyebut dirinya sebagai Princess Khodijah. Berkelahiran di
Pematangsiantar, Sumatra Utara tanggal 28 Desember 1997. Majalah permata skala
kecamatan telah memuat dua puisi indahnya. Dapat menghubungi email fadhilahmuslimah@yahoo.com, Nama Akun Facebook : Fadhilah
Muslimah Ats, @princesskhodija dan nomor hv 081377226311.
Komentar
Posting Komentar