Langsung ke konten utama

Mutiara yang Hilang



Mutiara yang Hilang
          Aku terhempas dalam jaring dunia yang gelap dan kejam. Menyeretku kedalam dunia antah berantah. Tersuruk di dalamnya, terperangkap dan terjerumus. Tak ada yang menghalang dan melarang. Terhimpit dalam kenyamanan dunia, maya akan kegelapan. Hati kecil menjerit hentikan semua, tapi nafsu membentak ingin menang dan kuasa atas segala yang ada hingga tak bisa terlepas darinya. Aku hanya teriris tanpa ada hati yang tersakiti. Tanpa air mata dan perasaan. Nanar tiada tara tersembunyi dalam lorong hitam pukat. Dunia sangat ironis dan tak beralasan membiarkanku seorang diri di bumi tua nan gersang ini.Sungguh aku tak inginkan hidup ini.
            Aku anak tunggal yang tidak diinginkan orang tuaku untuk hidup. Kehadiranku sungguh bencana besar bagi kedua orang tuaku yang tidak terikat dengan ikatan suci perkawinan. Di hari itu pula, satu mataku kehilangan cahaya terang dan kekuatan untuk bisa dibuka secara utuh sehingga hanya terlihat satu mata yang bersinar terang dalam keremangan malam. Aku semakin membenci hidup.
            Tak mudah hidup tanpa cahaya penerang bagi seorang gadis muda sehingga salah pergaulan. Terhempas lagi aku dalam hening suram nan kejam. Orang tua yang selalu memarahi dan memukul dengan atau tanpa alasan. Aku semakin tumbuh dewasa dengan penampilan sebagai seorang cowok. Aku pergi ke Padang untuk kabur dari rumah kejam itu. Mengambil S1 jurusan Seni Budaya. Aku terbebas dari neraka itu tetapi aku masih terpenjara dengan hati yang berdusta akan seperti ini. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya.
            “Hai namaku Dila” sapanya bertemu di toilet kampus. Aku meirik dan terkejut jumpa dengan orang memiliki nama seperti namaku.
            “ Oi, Aku Dila juga, sama nama kita” kataku histeris. “Waw.. mantap, kamu jurusan apa ?” “Aku jurusan seni rupa, kalau kamu?” “Aku Bahasa Inggris, Waw aku jadi pengen deket ni samamu aku anak Medan, kamu dari mana” “Aku dari Jakarta”. “ Mantap mantap boleh gak aku sering datang ke kosmu” “Boleh dung masa gak boleh, He he..”. Dimana ?”.” Di Jalan Cendrawasih no 11”. “Ok Bay The Way nama panjangku Fadhilah Muslimah, kamu?”. ”Aku Dila Insani”  aku melihat senyum indahnya bersinar di hatinya yang tulus memberi. Seperti melihat sesuatu yang berbeda darinya yang tak pernah kulihat sebelumnya. Punggungnya yang menyinari sekitar dengan memakai kostum putih dari jilbab sampai sepatunya yang putih bersih melangkah pergi jauh dariku, sangat nyaman lima menit bersamanya tidak seperti teman genk rokokku yang aku selalu ada bersama mereka.
Balap liar  dan judi tak ubahnya seperti santapan malam. Tugas kampus banyak yang tak terselesaikan. Aku bagai hati yang beku berjalan di atas bumi. Hari ketujuh setelah pertemuan itu. Dia datang ke kos petak kecil yang penuh dengan bungkus rokok dan bir dimana mana, tampak juga beberapa helai baju yang teronggok di atas dipan tua tak terurus. Dia terlihat santai dan tidak takut akanku yang berambut pendek ala anak geng cowok dan semua yang ada disini, dengan santai dia menatapku dan sekeliling dengan tersenyum.
“Assalamu’alaikum Dila” sapanya rama sembari mendekat ke arahku, aku hanya tersenyum, sudah lama sekali aku tidak lagi mendengar salam. Tertegun sambil menjawab terpatah patah salam itu. Dia mengajari cara menjawabnya. Terlihat wajah bersinar itu lagi. Kami bercerita, senda gurau seperti teman lama yang sudah lama berpisah, Tiga puluh menit terasa sangat cepat bagiku. Deru azan Dzuhur melanglang di mushola paling ujung jalan ini. Aku melanjutkan bermain laptop. Dia izin untuk mengambil wudhu dan sholat di kamar ini. Sungguh tak pernah aku melaksanakannya walau aku dilahirkan muslim. Gerak geriknya tak luput dari pengamatan dan awas mata.
“Gak sholat Dil?”. “Enggak, aku gak pernah sholat dari kecil” jawabku skenanya Terlihat hanya senyum manis yang tersengging disana. Dia pamit pulang dan berjanji akan datang lagi minggu depan di waktu yang sama, aku tidak keberatan karena merasa nyaman berada di dekatnya.
Seminggu berlalu janji itu datang juga. Kami hanya bercakap – cakap ringan. Dia selalu sama ketika azhan Dzuhur dia  bersegera melaksanakan sholat begitu juga aku melanjutkan permainan game di komputer dengan menghisap sebatang rokok Magnum. Melihatku seperti itu dia hanya tersenyum hangat dan menatap sendu dari pelupuk matanya. Pamit pulang dan berjanji kembali akan datang minggu depan. Begitu seterusnya dia selalu datang dan sholat Dzhur disini.
Minggu ini dia datang sebelum maghrib. Aku membubarkan komplotanku yang bertendang di kos ketika dia menghampiri. Kami bercerita sejenak dan dia sholat maghrib dengan mengeraskan suaranya.
Lantunan itu sangat menyentuh hingga ke ubun ubun tulang hati. Berirama penuh hayat tinggi bak suara indah dan damai. Bagai melihat seluruh kesalahan yang pernah kubuat. Lihatlah air mata ini menetes. Tak ingat kapan terakhir kali aku meneteskan air mata. Tidak, aku tidak mengerti. Lantunan itu seperti berbicara pada mata batin yang selama ini belum terjamah oleh perasaan. Sesuatu di luar kendali menghantamkanku ke dalam kesadaran tingkat tinggi akanku sebenarnya. Aku  terhempas dalam kenyataan. Sampai dia mengucapkan salam.
Demi melihat mataku yang berkaca kaca, dia semakin bersinar menerangiku menatap bahagia ke arahku. Dia mengucapkan kata kata yang akan menjadikan penyejuk hatiku
”Saudaraku, kau adalah mutiara yang tengah hilang dan akan segera menerangi dunia ini. Kau adalah setetes embun yang tak dinyana memberikan kenyamanan di hati para pecintanya. Kau adalah saudara terbaikku”
Aku tersenyum ke arahnya. Melihat jauh terawang ke depan apa yang akan terjadi selanjutnya. Senyuman itu bagai sengatan lebah yang akan selalu menyetrumku untuk ingat selalu kepada – Nya. Mata ini berjanti akan selalu bersamanya dalam dakwah Islam dengan memulainya dengan pembelajaran Islam dengan iman dan taqwa. Terima kasih untuk saudaraku yang telah menjadi guru terbaik. 

Dia adalah seorang hamba-Nya yang sedang tertatih untuk mencari petunjuknya.Dia Fadhilah Muslimah atau biasa disebut sebagai Princess Khodijah. Lahir di Pematangsiantar Sumatra Utara. Dua puisi indahnya sudah termuat di majalah kecamatan Langkat Binjai dan Cerpennya yang berjudul Cahaya yang Sempat Hilang sudah menghiasi buku Ayah, ajari aku penerbit Pena Indis. Info emailnya fadhilahmuslimah@yahoo.com, Nama akun facebook Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija. Dapat menghubungi nomor 081377226311

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...

Permata di Laut Biru

Hempasan ombak berganti berebut mengejar angin yang lari kian menjauh Ombak masih terus giat mengejar hingga nafasnya tetap stabil atau kadang buncah Masih dengan pola pikir yang sama Masih dengan laut atau bumi yang sama Permata indah seakan mengerjap nun jauh di bawah sana Cangkangnya terbuat dari buntalan besi atau tembaga seberat ribuan ton Akankah ada yang bisa mengusiknya? Kini permata sudah bisa tersenyum menghadap apa yang diberikan kepadanya Seperti cinta, harta, atau kedudukan kelak Usikan usikan kini kian menghantam Ratapan dari atas kian terdengar merana Sampai habis air matanya tenggelam dalam kenangan pahit Tapi liat lah,   permata masih tetap enggan berhenti tersenyum Dia tetap senang gembira tertawa Hey... Bahkan dia kini hampir menendang Dia tahu apa yang akan terjadi padanya Pada denyut nadi atau cangkangnya Dia riang menerimanya hingga sampai waktunya Tetap tersenyum menghadap Tuhan Nya Hingga permata kian bersinar pada cahaya...

Aliran Senja

Aliran Sungai hilir mudik berebut tempat untuk nestapa Hanya aliran yang mengenang dengan hembusan nyanyian angin bersama inang nya Masuk ke celah celah cahaya yang sempat padam Terus menggelisik menemukan jamuannya Hinggap sebentar di perkumpulan Cahaya Lihatlah, hembusan hembusan nafas tersebut naik terus ke atas sana Sangat mengharu dengan nyanyian nyanyian rindu  besar menjunjung tinggi cahaya sampai menghitam kelat dimakan rembulan Wahai... Tetap membesar walau duri kadang menghadang Hingga sampai tiba saatnya Meledak... Ribuan kunang membasahi hingga sampai ke akarnya Sangat indah bagai rembulan di kala senja Aku terpaku... Mentapaki tapak demi tapak genangan air menghujam jiwaku Sungguh alangkah indah Cahaya Nya