Langsung ke konten utama

SALAH SANGKA



SALAH SANGKA
Deru azan melanglang. Berdesir indah di relung jiwa. Sangat indah, damai, nyaman. Langit hitam dipenuhi bintang gemintang semakin mengharukan hati para pemujinya. Dia mengambil air wudhu di tengah denting air nan damai. Tubuhnya yang kekar menunjukkan kekuatan yang tersimpan didalamnya. Pandangan itu sangat teduh. Seakan tiada mempunyai hambatan dalam hidup. Dia mengambil kopiah dan sajadah kemudian diselampirkannya di bahu. Sungguh tampak gagah. Pemuda itu berjalan mendekatiku yang sedang asyik dengan laptop.
”Dila sholat dulu!”bentaknya kasar. “Bentarlah sedikit lagi ini” jawabku tak kalah kasar. Dia memandangi kesal kearahku. Aku tak ayal lagi seperti patung yang membeku tak bergerak sedikitpun walau wajah kesal itu terus menatap. Aku tahu seharusnya aku lakukan saja perintahnya agar dia segera pergi dari hadapanku. Tetapi caranya menyuruh membuat aku muak dan merasa dia adalah anak sulung yang mengatur semua urusan adiknya.
“Dila..” panggilnya lagi. Tatapanku sinis kearahnya dan mendesah kencang dan perlahan beranjak dari kursi. Aku masih kesal tetapi tetap kulaksanakan perintah itu. Aku tak ayal bagai seekor kelinci yang patuh pada tuannya. Inilah aku walau kesal sebagaimanapun aku masih harus tetap menuruti kemauannya. Dia berjalan lega melihatku berjalan menuju kamar mandi. Masjid di ujung jalan ini adalah tujuannya sekarang.
Air yang mengalir dari sekujur wajahku sangat menyegarkan mata yang memandang. Bagai tetes – tetes embun yang berjatuhan di pagi hari. Membuat senang para penantinya. Aku kembali suci dengan air ini. Sholat Maghrib kulaksanakan bersama ayah dan bunda. Ayah yang sudah berumur setengah abad tidak mampu lagi untuk pergi ke masjid. Ayah dulunya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil . Kini hanya mengambil uang pensiunan saja untuk membantu pembiayaan uang sekolah kami dan ibu adalah serang guru tetap di Sekolah Dasar Swasta dan menjadi salah seorang guru Bimbingan Belajar di kota Solo ini. Sholat telah usai tinggallah kami dalam kesyahduhan malam yang memikat.
**
“Dek, ulurkan jilbabmu sampai menutupi dada” katanya awas melihatku memakai jilbab pink. Aku tak menghiraukannya dan melanjutkan memode gaya jilbab. “Dila, gak usah kau bergaya gaya yang penting panjang jilbabnya” katanya membentak. “Apa sih bang Faruq, terserah Dila lah” jawabku sebal. “ Dila!” bentaknya keras. “Heboh kalilah bang Faruq ini” aku berjalan pergi melewatinya. Aku tidak jadi pergi bermain ke Mall bareng teman – teman keburu aku sangat kesal dengan abangku itu. Aku mengambil remote Tv dan menekan tuts tuts remote dengan kasar.
 Aku semakin sebal dengannya dan berharap dia pergi dari duniaku. Film kartun kesukaanku terputar di layar kaca. Tak lama dia datang dan bergabung denganku. “Ganti napa siarannya!” pintanya sedikit keras padaku. Seruan itu tak langsung kupenuhi dan tak menjawab sepatah kata pun untuknya. Melihatku tak bergeming. Dia mengulang permintaannya dengan intonasi yang lebih rendah. Aku sedikitpun tidak bergeming dan dia pergi meninggalkanku dan mengalah untuk kali ini.
Aku rindu dahulu bermain main dengannya, bermain kejar kejaran semasa aku Taman Kanak – Kanak dan dia duduk di kelas satu sekolah dasar. Sekarang kami telah tumbuh menjadi remaja SMA 1 Solo yang sama dan dia sebagai salah satu seniorku. Aku mendatangi kamar putih itu. Tampak olehku tempat tidur yang rapi dan bersih, gitar yang bersender tegang di dinding palling ujung. Kuamati dia sedang berkutik di depan layar komputer. Tampak sangat serius. Sejenak dia menyadari akan kedatanganku. Dia bergidik dan kaget. “ Ngapain kau disini, sana pergi, abang sedang banyak tugas ini, sana pergi!“  bentaknya padaku, dia menatap tajam padaku. Tak menyangka akan dibentak seperti ini aku pergi dan terisak. Tidakkah dia sayang padaku tanyaku dalam hati yang teriris.
            Dengan membuat pernyataan sendiri kalau abangku tidak pernah sayang padaku aku semakin tidak peduli lagi dengannya. Aku semakin tidak menganggapnya ada. Aku semakin jengkel dengan semua perintahnya. Aku semakin sebal dengan kehadirannya di depan mata. Aku tidak pernah lagi mendengar nasihatnya.
Dik ambilkan abang ini!, dik pakai kaus kakimu, dik  jangan kau memakai parfumitu, dik ulurkan jilbabmu, dik jangan pakai kaus yang ketat, dik tolong ini, tolong itu. Siapa dia, emangnya dia adalah raja dengan selalu menyuruh dan membentakku, tak jarang marahnya sebagai sosok hantu yang sudah lama tidak ditakuti lagi. Dia adalah seorang yang selalu marah dalam apapun yang berkaitan denganku. Tidakkah dia bisa melembutkan sedikit permintaanya. Menghaluskan sedikit tutur bahasanya. Agar aku dapat ikhlas dalam menjalani apapun yang di perintahkannya. Atau apakah dia benar benar tidak pernah menyayangiku
Melihat tiada hari di dalam rumah yang tenang damai di rumah yang selalu dihiasi dengan keributan antara aku dan abang Faruq. Ayah memanggilku dan ingin membicarakan sesuatu padaku. Aku mengobrol berdua dengan ayah di ruang keluarga. Ayah bercerita tentang sifat kerasnya waktu Beliau muda dahulu. Semua kata – kata yang keluar dari mulut beliau adalah kata – kata dengan intonai keras sehingga terkesan kasar dan marah.
“Abang Faruq mewarisi sifat ayah dahulu. Dia memang seorang yang keras. Jiwa pemimpin ada di dalam dirinya. Sehingga terkesan suka mengatur. Abangmu sangat sayang padamu Fadhilah, Dia sangat sayang padamu, ayah pernah melihatnya mengucurkan air mata di remang malam sambil menyebutmu dalam do’anya. Dia sayang padamu Fadhilah. Dia ingin melihatmu sebagai perempuan yang sholeh. Tapi dia tidak tahu cara menyalurkan sayangnya. Jadi dia hanya bisa marah melihatmu melakukan kesalahan di matanya” Jelas ayahku panjang lebar.
“Tapi mengapa dia pernah mengusirku dari kamarnya ketika itu ?” jawabku masih tidak percaya. “Memang seharusnya kita walau sebagai seorang adik pun tidak patut ke kamar saudara kita tanpa seizinnya terlebih dahulu”. Jelas ayah sabar. “ Tapi kan ayah bisa pelan pelan menyuruhku untuk keluar”. Jawabku masih tidak mau kalah. Senyum ayah yang menghiasi wajahnya membuatku perlahan juga turut tersenyum padanya. Aku tahu senyum itu, senyum itu yang menjawab semua pertanyaanku tadi. Senyum yang jarang terlihat dari wajah pemuda itu. Tapi selalu ada didalam hatinya. Ya sekarang aku percaya kata – kata ayah.
Belum tentu apa yang kita lihat dan rasakan adalah hal yang sebenarnya. Siapa yang mengetahui sayang atau tidaknya ia dengan kita. Dia mempunyai caranya sendiri untuk menyayangiku. Walau dahulu aku tidak mengerti. Ungkapan sayang itu sudah termaktup didalam perlakuannya padaku bagaimanapun caranya. Tetapi tetap dia menyayangiku seperti menyayangi dirinya sendiri. Aku sayang kamu saudaraku.


Dia adalah seorang hamba-Nya yang sedang tertatih untuk mencari petunjuknya.Dia Fadhilah Muslimah atau biasa disebut sebagai Princess Khodijah. Lahir di Pematangsiantar Sumatra Utara. Dua puisi indahnya sudah termuat di majalah kecamatan Langkat Binjai dan Cerpennya yang berjudul Cahaya yang Sempat Hilang sudah menghiasi buku Ayah, ajari aku penerbit Pena Indis. Info emailnya fadhilahmuslimah@yahoo.com, Nama akun facebook Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija. Dapat menghubungi nomor 081377226311


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...

Permata di Laut Biru

Hempasan ombak berganti berebut mengejar angin yang lari kian menjauh Ombak masih terus giat mengejar hingga nafasnya tetap stabil atau kadang buncah Masih dengan pola pikir yang sama Masih dengan laut atau bumi yang sama Permata indah seakan mengerjap nun jauh di bawah sana Cangkangnya terbuat dari buntalan besi atau tembaga seberat ribuan ton Akankah ada yang bisa mengusiknya? Kini permata sudah bisa tersenyum menghadap apa yang diberikan kepadanya Seperti cinta, harta, atau kedudukan kelak Usikan usikan kini kian menghantam Ratapan dari atas kian terdengar merana Sampai habis air matanya tenggelam dalam kenangan pahit Tapi liat lah,   permata masih tetap enggan berhenti tersenyum Dia tetap senang gembira tertawa Hey... Bahkan dia kini hampir menendang Dia tahu apa yang akan terjadi padanya Pada denyut nadi atau cangkangnya Dia riang menerimanya hingga sampai waktunya Tetap tersenyum menghadap Tuhan Nya Hingga permata kian bersinar pada cahaya...

Aliran Senja

Aliran Sungai hilir mudik berebut tempat untuk nestapa Hanya aliran yang mengenang dengan hembusan nyanyian angin bersama inang nya Masuk ke celah celah cahaya yang sempat padam Terus menggelisik menemukan jamuannya Hinggap sebentar di perkumpulan Cahaya Lihatlah, hembusan hembusan nafas tersebut naik terus ke atas sana Sangat mengharu dengan nyanyian nyanyian rindu  besar menjunjung tinggi cahaya sampai menghitam kelat dimakan rembulan Wahai... Tetap membesar walau duri kadang menghadang Hingga sampai tiba saatnya Meledak... Ribuan kunang membasahi hingga sampai ke akarnya Sangat indah bagai rembulan di kala senja Aku terpaku... Mentapaki tapak demi tapak genangan air menghujam jiwaku Sungguh alangkah indah Cahaya Nya