Langsung ke konten utama

Permata di Laut Biru

Hempasan ombak berganti berebut mengejar angin yang lari kian menjauh

Ombak masih terus giat mengejar hingga nafasnya tetap stabil atau kadang buncah

Masih dengan pola pikir yang sama

Masih dengan laut atau bumi yang sama

Permata indah seakan mengerjap nun jauh di bawah sana

Cangkangnya terbuat dari buntalan besi atau tembaga seberat ribuan ton

Akankah ada yang bisa mengusiknya?

Kini permata sudah bisa tersenyum menghadap apa yang diberikan kepadanya

Seperti cinta, harta, atau kedudukan kelak

Usikan usikan kini kian menghantam

Ratapan dari atas kian terdengar merana

Sampai habis air matanya tenggelam dalam kenangan pahit

Tapi liat lah,  permata masih tetap enggan berhenti tersenyum

Dia tetap senang gembira tertawa

Hey... Bahkan dia kini hampir menendang

Dia tahu apa yang akan terjadi padanya

Pada denyut nadi atau cangkangnya

Dia riang menerimanya hingga sampai waktunya

Tetap tersenyum menghadap Tuhan Nya

Hingga permata kian bersinar pada cahaya yang melampauinya

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...

Aliran Senja

Aliran Sungai hilir mudik berebut tempat untuk nestapa Hanya aliran yang mengenang dengan hembusan nyanyian angin bersama inang nya Masuk ke celah celah cahaya yang sempat padam Terus menggelisik menemukan jamuannya Hinggap sebentar di perkumpulan Cahaya Lihatlah, hembusan hembusan nafas tersebut naik terus ke atas sana Sangat mengharu dengan nyanyian nyanyian rindu  besar menjunjung tinggi cahaya sampai menghitam kelat dimakan rembulan Wahai... Tetap membesar walau duri kadang menghadang Hingga sampai tiba saatnya Meledak... Ribuan kunang membasahi hingga sampai ke akarnya Sangat indah bagai rembulan di kala senja Aku terpaku... Mentapaki tapak demi tapak genangan air menghujam jiwaku Sungguh alangkah indah Cahaya Nya