Langsung ke konten utama

Berkah Romadhon



Berkah Romadhon
            Dunia begitu besar, indah, dan gemerlap. Tidak sebanding dengan orang – orang yang menganggap dirinyalah yang paling hebat. Tak terkecuali seorang perempuan kaya raya yang telah melupakan segala urusan akhirat. Bahkan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Sampai hal – hal yang tidak pantas kita sebutkan dalam cerpen ini pun dilakukan. Aku heran melihat semua. Memang, dunia selalu begitu. Membuat semua orang berada di ambang keserakahan dan kebengisan. Lihat saja orang – orang yang terlunta – lunta meminta sedekah orang lain itu. Tidak ada seorang pun yang memerdulikannya. Korupsi telah menjadi barang murah. Belingsatan di kota Metropolitan ini. 
            Seorang anak kecil dengan baju tidak kalah kotor dengan wajah yang dipenuhi debu mendatangi seorang tua yang terlunta meminta pada orang orang. Orang orang memanggilnya Rian. Hari ini dia mendapat 20.000 hasil dari mengamennya hari ini. Dia mengisihkan 10.000 untuk orang tua itu. Separuh hasil cukup untuk buka puasa hari ini pikirnya. Memang di bulan puasa ini bersedekah membawa berkah jadi dia banyak memberi walau diri juga sekarat.
            Sedang orang tua tadi yang telah diberikan uang pulang dengan sumringah. Sudah banyak uang terkumpul untuk dirinya pergi ke baitullah. Uang yang selama ini dia kumpulkan demi melaksanakan kewajiban agama sedang ia berusaha.
            Rian bersama teman teman pengamen lainnya tinggal di perumahan kumuh tak berpehuni. Mereka berbagi suka duka bersama. Walau kadang bos sangat tidak berprikemanusiaan. Tetap saja mereka adalah suatu kelompok dimana diketuai oleh seorang dewasa yang bengis. Tato memenuhi seluruh tubuhnya, wajah seram, tak tampak sedikit pun tanda keramahan, berbanding lurus dengan badannya yang tinggi, besar dan kekar. Kami semua takut padanya. Separuh dari hasil mengamen harus diberikan padanya. Rian pernah berharap agar keluar dari tempat ini. Tetapi tiada harapan.
            “Jack.. Ayo kita mengamen di perempatan itu, lagi banyak sewa tuh..”, kata Rian semangat pada teman akrabnya
            “Rian.. Lihat mereka sudah mengambil tempat kita,” kata Jack segera.
            “Ayo, kita lekas”
Dalam satu bus yang besar, terdapat dua grup pengamen. Yang satu dengan alunan suara merdu khas pengamen dengan iringan gitar kecil temannya dan yang satunya dengan alunan suara cempreng tak berbekas diiringi dengan rebana kecil. Mereka menyanyikan dua lagu yang berbeda. Tidak ada yang mau mengalah Rian dengan Jack yang membawa gitar, serta musuh di depan dengan tubuh semampai saling melirik tajam. Penumpang sangat tidak puas.
Stop..Bagaimana sih kalian, kami bingung mau dengerin suara yang mana,” suara ibu berpenampilan menor menjerit menghentikan nyanyian kami.
“Heh loe pada pergi sana, kami duluan yang menaiki bus ini,” kata musuh di seberang
“Enak aja, kami duluan yang masuk kesini, Enak saja loe nyuruh kami pergi,” kata Jack tidak mau kalah.
“Loe mau ngajak rebut ni?” ancam mereka
“ Woi siapa takut,” balas Jack. Perkelahian Jack dengan mereka sangat tidak seimbang. Rian ikut membantu walau badan kecil kurusnya sangat tidak membantu. Penumpang heboh dan menelpon polisi. Mereka semua dibawa ke kantor polisi dengan bandan penuh bercak darah.
Polisi mendata nama nama mereka. Rian Al-Fatih selama ini sedang dicari cari oleh seorang ibu dan bapak. Polisi bertanya dimana dan dari mana mereka berasal. Kedua ibu dan bapak tadi ditelpon oleh pihak kepolisian agar mengetahui apakah anak ini yang mereka maksud selama ini.
Jack dan yang lainnya sudah diinterogasi, tidak ada hukuman denda yang berlaku kali ini polisi menetapkan peringatan pada mereka. Sedang Rian harus menunggu kedatangan ibu bapak tersebut.
“Ada apa Rian?” tanya Jack
“Aku tidak tahu, ada yang mencari cari orang yang bernama sama denganku,”
“Semoga itu pertanda baik,”jawab Jack
Benar saja, ibu tersebut langsung mengetahui bahwa Rianlah yang selama ini dia cari. Rian ditinggalkan sewaktu bayi karena tidak sanggup secara ekonomi, sedang suami pergi tak bertanggung jawab. Sekarang ibu tersebut sudah mendapatkan jodoh yang baik serta mempunyai ekonomi yang baik. Mereka mencari anak yang dahulu dia tinggalkan. Rian dan Jack sangat terkejut mendengar hal tersebut.
Rian sangat bersyukur tentang hal ini. Lihatlah ibu dan anak dengan harunya berpelukan di tengah kota metropolitan ini. Sangat indah, Rian langsung memaafkan ibunya yang telah meninggalkannya dahulu dengan syarat agar ibu dan ayah tirinya harus menerima Jack sebagai anak angkat juga. Pelukan itu ditambah dengan Jack dan ayah, betapa bahagia keluarga tersebut sekarang.
***
Di kota makkah ketika tawaf menggelilingi ka’bah orang tua yang dahulu diberi sedekah oleh Rian tengah berdo’a untuk kebaikannya, agar anak kecil tersebut bertemu dengan keluarga kandungnya, agar selalu diberikan keberkahan bersedekah di bulan Romadhan, agar selalu bahagia disana. Orang tua tersebut mengangis bertahlil sambil menyebutkan do’a itu didalam hati. Seraya bersyukur karena sudah diizinkan untuk mengunjungi rumah Allah. Terima kasih ya Allah atas Kasih-Mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...

Permata di Laut Biru

Hempasan ombak berganti berebut mengejar angin yang lari kian menjauh Ombak masih terus giat mengejar hingga nafasnya tetap stabil atau kadang buncah Masih dengan pola pikir yang sama Masih dengan laut atau bumi yang sama Permata indah seakan mengerjap nun jauh di bawah sana Cangkangnya terbuat dari buntalan besi atau tembaga seberat ribuan ton Akankah ada yang bisa mengusiknya? Kini permata sudah bisa tersenyum menghadap apa yang diberikan kepadanya Seperti cinta, harta, atau kedudukan kelak Usikan usikan kini kian menghantam Ratapan dari atas kian terdengar merana Sampai habis air matanya tenggelam dalam kenangan pahit Tapi liat lah,   permata masih tetap enggan berhenti tersenyum Dia tetap senang gembira tertawa Hey... Bahkan dia kini hampir menendang Dia tahu apa yang akan terjadi padanya Pada denyut nadi atau cangkangnya Dia riang menerimanya hingga sampai waktunya Tetap tersenyum menghadap Tuhan Nya Hingga permata kian bersinar pada cahaya...

Aliran Senja

Aliran Sungai hilir mudik berebut tempat untuk nestapa Hanya aliran yang mengenang dengan hembusan nyanyian angin bersama inang nya Masuk ke celah celah cahaya yang sempat padam Terus menggelisik menemukan jamuannya Hinggap sebentar di perkumpulan Cahaya Lihatlah, hembusan hembusan nafas tersebut naik terus ke atas sana Sangat mengharu dengan nyanyian nyanyian rindu  besar menjunjung tinggi cahaya sampai menghitam kelat dimakan rembulan Wahai... Tetap membesar walau duri kadang menghadang Hingga sampai tiba saatnya Meledak... Ribuan kunang membasahi hingga sampai ke akarnya Sangat indah bagai rembulan di kala senja Aku terpaku... Mentapaki tapak demi tapak genangan air menghujam jiwaku Sungguh alangkah indah Cahaya Nya