Telah duduk anak bermata emas berhati pilu
Duduk antara pedang yang tertancap di setiap celah kayunya
Tak pernah risau atau marah dengan apa yang ada padanya
Pedang pun semakin hari semakin ganas menggerogoti tulang dan hatinya
Kebal dengan segala urusan, justru memakan pisau serta sayatan sayatannya
Telah datang pula dari segala penjuru anak panah menghantam jeritannya
Hingga tarikan serta jeritan lepas dari cangkangnya
Terkadang lupa dengan apa yang dikata dirasa atau ditoreh
Kini tinggal senyuman manis yang dilanda dalam senyap
Menoleh janji Sang Maha Kuasa kepadanya
Secarik senja pun ikut tersenyum kepadanya
Komentar
Posting Komentar