Detik kian berlanjut sampai akhir dari detik itu sendiri
Nafas silih berganti kian berseru seakan berlomba dengan satu dan lainnya
Awan hitam pekat putih biru atau jingga yang tak dinyana seakan menatap dengan tajam
Aahh...Sangat tajam hingga aku berlari mencari celah agar tak dilihat
Ouuu.. manisnya buah yang disantap seakan menjelma menjadi sekumpulan duri tak bertulang
Seakan angin berkata semua akan baik baik saja
Yaa.. kini pun dengan rakus terus memakannya walau ada ulat tak kasat mata tertawa didalamnya. Ha ha ha..
Wuussss.. ada siluet terbang mengambil buah mengkuduku dari atas kepalaku
Duri duri itu tersangkut di tenggorokanku tapi dia tetap terus menariknya
Lepas sudah tenggorokanku dari tempatnya
Apa itu? Seakan cacing cacing pita tersangkut oleh tarikannya
Telah mati rasaku, hanya bisa melotot menatap senja yang biru laksana jingga yang dikutuk
Aduhai... Buah itu hasil jerih payahku
Sisa sisa peradaban yang kubentuk dalam rakusnya ikan di tengah kota
Aku ini raja yang menjerat ribuan angin dan topan agar tunduk padaku
Aduhai.. malanglah benar nasibju
Justru kini mereka berbalik membangkitkan masa seakan menghancurkanku
Kini aku akan hidup selamanya
Komentar
Posting Komentar