Langsung ke konten utama

Senja Biru

Detik kian berlanjut sampai akhir dari detik itu sendiri

Nafas silih berganti kian berseru seakan berlomba dengan satu dan lainnya

Awan hitam pekat putih biru atau jingga yang tak dinyana seakan menatap dengan tajam

Aahh...Sangat tajam hingga aku berlari mencari celah agar tak dilihat

Ouuu.. manisnya buah yang disantap seakan menjelma menjadi sekumpulan duri tak bertulang

Seakan angin berkata semua akan baik baik saja

Yaa.. kini pun dengan rakus terus memakannya walau ada ulat tak kasat mata tertawa didalamnya. Ha ha ha..

 

Wuussss.. ada siluet terbang mengambil buah mengkuduku dari atas kepalaku

Duri duri itu tersangkut di tenggorokanku tapi dia tetap terus menariknya

Lepas sudah tenggorokanku dari tempatnya

Apa itu? Seakan cacing cacing pita tersangkut oleh tarikannya

Telah mati rasaku, hanya bisa melotot menatap senja yang biru laksana jingga yang dikutuk

Aduhai... Buah itu hasil jerih payahku

Sisa sisa peradaban yang kubentuk dalam rakusnya ikan di tengah kota

Aku ini raja yang menjerat ribuan angin dan topan agar tunduk padaku

Aduhai.. malanglah benar nasibju

Justru kini mereka berbalik membangkitkan masa seakan menghancurkanku

Kini aku akan hidup selamanya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK KECIL NURAM DURJA

ANAK KECIL NURAM DURJA             Lihat itu. Dedaunan yang tak tampak oleh nyata kehidupan. Sangat jauh sehingga menelusuk dalam ron-rona hitam, hijau, dan kuning. Kontras sekali. Bila dipandang jauh tampak seperti lukisan alam nan indah. Dibawahnya mengalir sungai sungai yang indah berkilau diterpa cahaya mentari. Angin menari-nari menyambut tuannya sedang berbaris rapi menghadap kokoh dunia yang hingar bingar saat ini. Pun buah ceri yang berjatuhan diseliling hinggapnya seperti hanya miliknya. Oh.. begitu indah.             Alif anak kecil yang masih mengusap air mata itu masih terduduk dalam      diam, menyender pohon Ceri yang bahagia itu. Lelah menangis sepanjang siang karena teman-teman mengejeknya idiot . Urung pulang, hanya menepi menatap indahnya pegunungan nan bersahaja. Muka dan tingkah, kata orang mirip orang idiot dan didukung ...

Permata di Laut Biru

Hempasan ombak berganti berebut mengejar angin yang lari kian menjauh Ombak masih terus giat mengejar hingga nafasnya tetap stabil atau kadang buncah Masih dengan pola pikir yang sama Masih dengan laut atau bumi yang sama Permata indah seakan mengerjap nun jauh di bawah sana Cangkangnya terbuat dari buntalan besi atau tembaga seberat ribuan ton Akankah ada yang bisa mengusiknya? Kini permata sudah bisa tersenyum menghadap apa yang diberikan kepadanya Seperti cinta, harta, atau kedudukan kelak Usikan usikan kini kian menghantam Ratapan dari atas kian terdengar merana Sampai habis air matanya tenggelam dalam kenangan pahit Tapi liat lah,   permata masih tetap enggan berhenti tersenyum Dia tetap senang gembira tertawa Hey... Bahkan dia kini hampir menendang Dia tahu apa yang akan terjadi padanya Pada denyut nadi atau cangkangnya Dia riang menerimanya hingga sampai waktunya Tetap tersenyum menghadap Tuhan Nya Hingga permata kian bersinar pada cahaya...

Aliran Senja

Aliran Sungai hilir mudik berebut tempat untuk nestapa Hanya aliran yang mengenang dengan hembusan nyanyian angin bersama inang nya Masuk ke celah celah cahaya yang sempat padam Terus menggelisik menemukan jamuannya Hinggap sebentar di perkumpulan Cahaya Lihatlah, hembusan hembusan nafas tersebut naik terus ke atas sana Sangat mengharu dengan nyanyian nyanyian rindu  besar menjunjung tinggi cahaya sampai menghitam kelat dimakan rembulan Wahai... Tetap membesar walau duri kadang menghadang Hingga sampai tiba saatnya Meledak... Ribuan kunang membasahi hingga sampai ke akarnya Sangat indah bagai rembulan di kala senja Aku terpaku... Mentapaki tapak demi tapak genangan air menghujam jiwaku Sungguh alangkah indah Cahaya Nya